Interpretasi Hasil Klasterisasi Kasus Kekerasan Berdasarkan Tempat Kejadian
di Provinsi Jawa Barat 2020–2024

Berdasarkan penerapan algoritma K-Means dengan jumlah klaster K = 4, evaluasi menggunakan Davies–Bouldin Index yang menghasilkan nilai 0,622.

1. Proporsi Jumlah Anggota Tiap Klaster

Proporsi Klaster

Distribusi ini menunjukkan sebagian besar wilayah di Provinsi Jawa Barat termasuk ke dalam cluster 0, yaitu kelompok dengan tingkat kasus kekerasan relatif rendah pada semua kategori tempat kejadian. Sedangkan cluster 1 dan 2 yang beranggotakan sedikit daerah merepresentasikan wilayah dengan karakteristik kasus kekerasan yang tinggi di kategori tempat kejadian tertentu. Sementara cluster 3 menggambarkan wilayah dengan tingkat kasus menengah, di mana jumlah kejadian kekerasan tidak setinggi cluster 1 dan 2, tetapi lebih tinggi dibandingkan cluster 0.

Kondisi ini menandakan sebagian besar wilayah di Jawa Barat masih memiliki tingkat kekerasan yang relatif rendah, tetapi terdapat beberapa daerah dengan potensi risiko yang tinggi yang memerlukan perhatian kebijakan lebih serius.

2. Perbandingan Rata-Rata Kasus per Kategori Antar Klaster

2.1 Fasilitas Umum (FASUM)

Perbandingan Fasilitas Umum

Secara umum, kasus kekerasan di fasilitas umum tidak terlalu banyak dan cenderung stabil di sebagian besar wilayah. Hanya beberapa klaster yang menunjukkan angka sedikit lebih tinggi yaitu cluster 1 dan 3, namun tetap berada dalam skala yang wajar. Ini menunjukkan bahwa fasilitas umum bukan menjadi lokasi dominan terjadinya kasus dalam data yang dianalisis.

2.2 Kategori Lainnya (LAIN)

Perbandingan Lainnya

Kasus kekerasan pada kategori lainnya menjadi salah satu kategori dengan nilai kasus yang paling tinggi dalam hasil klasterisasi, terutama pada cluster 2 dan cluster 1 yang menunjukkan rata-rata sangat besar dibandingkan kategori yang lain. Kategori ini mencakup berbagai tempat kejadian yang tidak termasuk dalam klasifikasi 5 kategori yang lain, seperti salon, bar, tempat karaoke, bioskop, tempat hiburan malam, serta berbagai lokasi komersial atau privat lainnya.

Secara keseluruhan, kategori lainnya memberikan gambaran bahwa kekerasan tidak hanya terjadi dalam konteks keluarga atau institusi pendidikan, tetapi juga banyak muncul pada lokasi-lokasi nonformal yang tidak terklasifikasi 5 kategori yang lain atau bersifat komersial dan privat.

2.3 Lembaga Pendidikan Kilat (LPK)

Perbandingan LPK

Kasus kekerasan di lembaga pendidikan kilat sangat jarang terjadi. Hampir semua wilayah menunjukkan angka yang sangat rendah, bahkan mendekati nol. Hal ini memperlihatkan bahwa lingkungan pendidikan nonformal relatif aman dan tidak menjadi sumber utama kasus dalam data. Kategori lembaga pendidikan kilat ini merujuk pada tempat-tempat pendidikan nonformal atau pelatihan jangka pendek seperti kursus bahasa, lembaga bimbingan belajar, tempat pelatihan keterampilan.

2.4 Rumah Tangga (RT)

Perbandingan Rumah Tangga

Kasus kekerasan di rumah tangga merupakan kategori dengan intensitas kasus paling tinggi dalam keseluruhan analisis. Nilai rata-rata pada cluster 1 sangat dominan dan jauh melampaui klaster lainnya, menunjukkan bahwa sebagian besar kasus kekerasan terjadi dalam lingkungan domestik Kategori ini mencakup berbagai jenis tempat tinggal seperti rumah pribadi atau unit hunian sewa yang menjadi ruang interaksi sehari-hari antar anggota rumah tangga.

Secara keseluruhan, kategori Rumah Tangga menunjukkan bahwa ruang tinggal dan lingkungan keluarga merupakan lokasi paling rentan terjadinya kekerasan. Temuan ini menggarisbawahi pentingnya intervensi sosial yang lebih menyasar kesejahteraan keluarga, edukasi tentang kekerasan domestik, serta penguatan sistem perlindungan bagi korban di lingkungan rumah.

2.5 Sekolah (SKL)

Perbandingan Sekolah

Kasus kekerasan di sekolah berada pada tingkat rendah hingga sedang. Cluster 1 memiliki angka yang lebih tinggi dibanding cluster yang lain, namun secara keseluruhan kategori ini masih tergolong cukup aman dibandingkan kategori lain yang lebih dominan. Polanya menunjukkan meskipun ada kasus, tetapi tidak tersebar merata dan tidak terlalu besar skalanya.

2.6 Tempat Kerja (TK)

Perbandingan Tempat Kerja

Kasus kekerasan di tempat kerja tidak terlalu banyak dan cenderung rendah di sebagian besar wilayah. Hanya cluster 2 yang memiliki angka sedikit lebih tinggi dibandingkan cluster yang lain, namun masih berada dalam skala kecil dibandingkan kategori rumah tangga dan lainnya. Menunjukkan bahwa tempat kerja bukan menjadi lokasi dengan intensitas kasus yang tinggi secara umum.

3. Persebaran Data dan Pola Perbedaan Antar Atribut

Persebaran data dianalisis menggunakan dua visualisasi untuk memetakan perbedaan nilai antar kategori dan pola pembentukan klaster.

3.1 Scatter Plot Atribut RT dan LAIN

Scatter Plot RT dan LAIN

Berdasarkan visualisasi persebaran data dari 2 atribut kategori rumah tangga dan lainnya dengan nilai rata-rata tertinggi dibanding yang lain. Pemilihan 2 variabel dengan varian tinggi memungkinkan visualisasi pola pemisahan klaster yang lebih jelas, sehingga memudahkan interpretasi. Selain itu, penggunaan seluruh 6 kategori sekaligus pada visualisasi scatter plot tidak memungkinkan secara teknis, karena scatter plot hanya dapat memetakan 2 variabel numerik dalam satu bidang koordinat.

Berdasarkan grafik, terlihat klaster terbentuk jelas mengikuti pola persebaran nilai RT dan LAIN. Cluster 1 menempati posisi pada rentang nilai Rumah tangga dan lainnya yang tinggi, menunjukkan wilayah yang termasuk ke dalam cluster 1 memiliki tingkat kekerasan rumah tangga dan kategori lainnya yang keduanya sama-sama besar. Cluster 2 berada pada posisi nilai kategori lainnya yang sangat tinggi namun nilai rumah tangga yang lebih bervariasi. Cluster 3 terletak pada area nilai menengah yang bervariasi, sedangkan cluster 0 tersebar pada area dengan nilai Rumah tangga dan lainnya yang rendah.

3.2 Line Chart Centroid Tiap Klaster

Line Chart Centroid Tiap Klaster

Visualisasi line chart memberikan gambaran menyeluruh mengenai kontribusi masing-masing kategori terhadap pembentukan klaster. Terlihat bahwa kategori Rumah Tangga dan Lainnya memiliki nilai yang jauh lebih tinggi dibandingkan kategori lainnya, sementara Lembaga Pendidikan Kilat merupakan kategori dengan nilai paling rendah. Fasilitas Umum, Sekolah, dan Tempat Kerja berada pada rentang rendah hingga sedang.

4. Distribusi Wilayah pada Setiap Klaster

4. Distribusi Wilayah pada Setiap Klaster

Klasterisasi ini memungkinkan identifikasi wilayah kabupaten/kota yang memiliki pola kejadian yang relatif homogen pada periode 2020-2024.

1. Cluster 0 - Klaster Intensitas Rendah

Cluster 0 merupakan kelompok wilayah dengan nilai kasus yang rendah pada semua sektor kategori yaitu tidak lebih dari 20 kasus kekerasan. Polanya stabil dan tidak menunjukkan peningkatan signifikan. Menggambarkan wilayah dengan tingkat kekerasan yang relatif kecil. Beberapa wilayah bahkan konsisten berada dalam klaster intensitas rendah selama lima tahun berturut-turut, yaitu Kabupaten Bogor, Kabupaten Ciamis, Kabupaten Kuningan, Kabupaten Majalengka, Kabupaten Pangandaran, Kabupaten Sumedang, Kota Banjar, Kota Cimahi, dan Kota Cirebon. Wilayah-wilayah ini memiliki pola kekerasan yang relatif kecil dan tidak mengalami lonjakan berarti dari tahun ke tahun.

Secara keseluruhan terdapat 26 wilayah kabupaten/kota yang tergolong dalam klaster ini, menjadikannya klaster dengan cakupan wilayah yang paling luas. Distribusi tahun menunjukkan tahun 2021 menjadi tahun yang paling dominan, dengan total 24 data wilayah yang berada pada klaster intensitas rendah. Klaster ini dapat menjadi baseline untuk mengevaluasi peningkatan risiko pada tahun-tahun berikutnya.

2. Cluster 1 - Klaster Intensitas Sangat Tinggi

Cluster 1 memiliki nilai kasus tertinggi secara keseluruhan dipengaruhi oleh 2 kategori paling dominan, yaitu kategori rumah tangga yang sangat tinggi dengan rata-rata 225,17 kasus dan kategori lainnya yang cukup tinggi dengan rata-rata 105 kasus. Menjadikan cluster 1 sebagai kelompok wilayah dengan tingkat kerawanan tertinggi. Kondisi ini mencerminkan kompleksitas dinamika sosial.

Cluster 1 memiliki nilai kasus tertinggi secara keseluruhan dipengaruhi oleh 2 kategori paling dominan, yaitu kategori rumah tangga yang sangat tinggi dengan rata-rata 225,17 kasus dan kategori lainnya yang cukup tinggi dengan rata-rata 105 kasus. Menjadikan cluster 1 sebagai kelompok wilayah dengan tingkat kerawanan tertinggi. Kondisi ini mencerminkan kompleksitas dinamika sosial. Wilayah yang tergolong dalam klaster ini yaitu Kabupaten Bekasi (2023-2024), Kota Bandung (2022-2024), dan Kota Bekasi 2024. Seluruh wilayah tersebut merupakan kawasan yang rentan terhadap konflik domestik maupun kekerasan kategori lainnya. Klaster ini merupakan prioritas utama dalam pengambilan kebijakan karena memadukan 2 sumber kekerasan terbesar dalam analisis.

3. Cluster 2 - Klaster Intensitas Tinggi

Cluster 2 juga termasuk dalam klaster dengan intensitas tinggi, tetapi tingginya kasus kekerasan terfokus pada kategori lainnya yang rata-rata nilnya sebesar 146,67 kasus. Kategori lainnya seperti area komersial dan privat contohnya di bar, salon, karaoke, bioskop dan lain-lain yang tidak termasuk dalam klasifikasi 5 kategori yang lain. Nilai rata-rata kategori lainnya bahkan melampaui cluster 1. Sementara kategori yang lain berada pada level yang lebih rendah.

Wilayah dalam klaster ini spesifik 1 wilayah yaitu Kabupaten Sukabumi (2020, 2023, 2024). Mengindikasikan bahwa wilayah tersebut memiliki karakter sosial-kultural tertentu. Meskipun hanya 1 wilayah, intensitas kasus pada kategori lainnya sangat tinggi sehingga layak dikategorikan sebagai klaster intensitas tinggi. Klaster ini memberikan wawasan penting bahwa risiko kekerasan tidak selalu berasal dari ruang domestik tetapi juga dari kategori lainnya, tempat yang tidak terklasifikasi 5 kategori yang lain dapat menunjukkan pola kekerasan yang signifikan.

4. Cluster 3 - Klaster Intensitas Sedang

Klaster ini memiliki nilai kategori yang berada pada tingkat sedang. Wilayah ini tidak memiliki nilai ekstrem seperti cluster 1 dan 2, tetapi tetap menunjukkan variasi yang antar kategori. Kategori rumah tangga berada pada 89,569, lebih tinggi dari cluster 0 dan 2. Menunjukkan bahwa klaster ini memiliki masalah signifikan dalam hal kekerasan rumah tangga, tetapi belum mencapai tingkat ekstrem seperti cluster 1.

Terdapat sebanyak 17 kabupaten/kota yang tergabung dalam cluster 3. Beberapa wilayah bahkan secara konsisten selama 3 tahun atau lebih dengan intensitas sedang, yaitu Kabupaten Bandung, Kabupaten Tasikmalaya, Kota Bogor, dan Kota Depok. Konsistensi ini menunjukkan bahwa wilayah tersebut memiliki pola risiko yang relatif stabil pada tingkat intensitas sedang. Distribusi tahun pada klaster ini menunjukkan tahun 2024 menjadi tahun yang paling dominan dalam klaster ini, dengan total 12 data wilayah dan 2023 mencakup 10 data wilayah. Klaster ini mencerminkan pola sosial campuran di mana terdapat masalah domestik, tapi ruang publik lebih terkendali dibanding klaster intensitas tinggi.

Secara keseluruhan, hasil klasterisasi menunjukkan pola kasus kekerasan di Jawa Barat membentuk empat kelompok dengan karakteristik yang berbeda. Cluster 0 menggambarkan wilayah yang stabil dan memiliki intensitas kasus yang rendah, Cluster 1 dan Cluster 2 menunjukkan konsentrasi kasus kekerasan yang tinggi yaitu pada kategori rumah tangga dan kategori lainnya. Adapun Cluster 3 berada pada tingkat intensitas sedang dengan kecenderungan kasus kekerasan di rumah tangga yang cukup menonjol. Pembagian klaster ini memberikan gambaran mengenai varian risiko kekerasan berdasarkan tempat kejadian antar wilayah kabupaten/kota dan dapat menjadi dasar penting dalam penyusunan strategi penanganan yang lebih terarah sesuai karakteristik masing-masing klaster.

Informasi Sumber Data & Legalitas Penelitian

Sumber Data

Seluruh data yang digunakan dalam analisis dan visualisasi pada website ini berasal dari Portal Open Data Jabar, melalui dataset resmi berjudul "Jumlah Kasus Kekerasan Berdasarkan Tempat Kejadian Kekerasan di Jawa Barat". Dataset tersebut dapat diakses melalui tautan berikut:

➜ Link Dataset Open Data Jabar

Legalitas Penelitian

Penelitian ini telah memperoleh persetujuan resmi melalui Surat Izin Penelitian yang dikeluarkan oleh UPTD Pusat Layanan Digital, Data, dan Informasi Geospasial Pemerintah Provinsi Jawa Barat.

➜ Unduh Surat Izin Penelitian (PDF)